Minggu, 22 April 2018

Kecubung Wulung 6

Plencing dan Tobil berhasil menjumpai Yu Jumprit. Plencing dan Tobil tahu kalau jam-jam pagi seperti ini Pak Pedut, Kliwon dan Menik berada di sawah. Yu Jumprit tinggal sendirian di rumah. Kesempatan inilah yang oleh Tobil dan Plencing dimanfaatkan.
"Tumben kamu berdua menemui aku. Ada apa? Duduk di dapur saja ya, biar aku bisa nyambi ngliwet sama buat sayur.” Yu Jumprit menanggapi Tobil dan Plencing yang duduk di amben dapur.
”Ndak masalah, yu, kalau di dapur kan malah dekat sama teh dan pacitan ta, yu.” Plencing mencoba mengajak yu Jumprit bercanda.
”Ya nanti tak buatkan wedang jae saja, kebetulan ini ada sukun goreng, sebentar nanti dinikmati.” Yu Jumprit menanggapi candanya Plencing.

Jumat, 20 April 2018

Malam Pertama



Malam itu datang terlalu cepat. Saking cepatnya, sampai-sampai tidak ada yang sadar bahwa matahari sudah tergelincir dari ufuk untuk kembali tidur ke peraduannya yang abadi. Langit mulai kelam dan segera saja sang bulan bertukar peran dengan sang surya, menerangi jagad raya ditemani oleh ribuan bintang-bintang kecil sebagai dayang-dayangnya.
Gadis berambut merah itu sudah masuk ke dalam kamarnya sejak senja bertukar malam. Rambutnya yang siang tadi disanggul, sekarang sudah tergerai dengan rapi mencapai tengkuknya. Wajahnya yang saat upacara tadi tertutup bedak tipis, kini sudah bersih tanpa make up. Yang tertinggal hanyalah wajahnya yang polos dan alami.

Rabu, 18 April 2018

Merindu Kekasih



Disusul ke rumahnya, katanya Ceceu malah ke kos-kosan Dodo. Sisipan jalan. Sesuai informasi dari pembantunya yang item tapi lumayan itu, Dodo pun bergegas kembali ke kos-kosannya. Rasa kangen itu sudah gedabar-gedebur.
Begitu dia membuka pintu, wow! Sesosok indah kelihatan sedang berdiri menghadap pintu kamar tamu bersiap mau mengetuk. Buru-buru Dodo merengkuhnya dari belakang.
"Hai, sayangku... kamu ke sini..."
Plak! Pengeng muka Dodo untuk beberapa lama.
"Kamu jangan kurang ajar, ya!"

Senin, 16 April 2018

Perahu 1



Ayah sedang sakit. Ibu menjaganya di rumah. Tidak dibawa ke rumah sakit karena ketiadaan uang. Untuk sementara, aku yang menggantikan ayah melaut. Ayah terus menerus batuk dan mengeluarkan darah. TBC, kata orang-orang. Aku pun menembus kabut pagi ke tengah laut, sembari menebar jaring kecil sendirian dengan perahu milik ayah. Perahu kecil dengan cadik kecil di kedua sisinya. Aku pun berhenti sekolah.
Adikku Sutinah, mulai besok libur sekolah. Dia kelas 1 SMP, tak lagi naik ke kelas 2. Aku senang, begitu adikku Sutinah libur, berarti ada yang menolong ibu di rumah. Tapi malah adikku Sutinah ingin ikut denganku melaut. Akhirnya ibu mengizinkannya.

Minggu, 15 April 2018

Iblis Dunia Persilatan 3

Hak cipta © Aone

BAB 3

"Emhhh...!" Seorang Pemuda tampan berbaju kelabu membuka matanya, sungguh kaget tak kepalang hatinya ketika ia menyaksikan seorang gadis mungil berusia lima belas tahunan sedang menari di tengah lapangan. 

Gadis itu memakai baju dari kulit kujang berbentuk terusan, sehingga ketika gadis itu mengangkat kakinya, paha yang putih mulus beserta isinya akan terpampang dengan jelas. Peluh sebesar jagung tampak menetes pelan dari dahinya, ke wajahnya, dan terus turun ke lehernya yang jenjang, lalu mengalir hingga menghilang di lekukan menonjol di bagian dada. Ketika gadis itu mengangkat tangannya, maka gundukan yang mengintip tampak menyembul indah di sela-sela baju kulit kujangnya.