Rabu, 30 November 2016

Serial Petualangan Evan 8



Hari sudah menjelang sore ketika Evan selesai mengantar Tya Ariestya ke tempat syuting. Sebelum berangkat, mereka sempat bercinta sejenak. Dua hari tidak ketemu membuat Tya kangen kepada Evan. Begitu juga dengan Evan. Meski lelah akibat permainan bertiga di villa milik Hannah Al-Rashid, ia berusaha melayani Tya dengan sepenuh hati. Bagaimanapun Tya lah yang telah membantu dan meringankan beban hidupnya, juga yang telah mengajarinya menjadi laki-laki dewasa. Karena Tya pula lah, Evan bisa mencicipi tubuh artis-artis lain, mulai dari Aura Kasih, Tyas Mirasih, Marissa, hingga yang tua tapi tetap cantik macam Nadya Hutagalung.
Evan bersyukur, merasa senang dan sangat menikmati gaya hidupnya yang sekarang, meski masih ada sedikit yang kurang. Chelsea. Ya, Chelsea Olivia, pacar Evan, sepertinya makin jauh dan makin renggang saja. Di kampus, mereka jarang bertemu dan berbicara. Kalau kebetulan berpapasan, cukup saling senyum dan saling sapa sekedarnya. Tidak ada lagi tawa dan canda seperti dulu.

Selasa, 29 November 2016

Pendekar Tanpa Tanding 8



Hak Cipta © John Halmahera

Pagi itu embun masih bergayut di udara. Hawa dingin pegunungan menusuk sampai tulang sumsum. Di lapangan terbuka di depan pintu gerbang perguruan Mahameru, di situ terlihat puluhan tenda tempat menginap para tamu undangan. Bahkan mereka yang tak diundang, asalkan punya nama yang cukup dikenal akan diberi tempat menginap di tenda.
Puluhan tenda diatur dalam lingkaran berlapis. Di tengah lingkaran, sebuah tanah lapang dikosongkan untuk arena tarung. Tenda-tenda yang berada di lingkaran dalam, di pinggir arena tarung disediakan bagi perguruan besar dan pendekar perorangan yang punya nama besar. Tenda-tenda itu terdiri tiga macam ukuran, yang paling besar untuk rombongan yang anggotanya banyak. Tenda ukuran sedang untuk rombongan yang sedikit anggotanya. Selain itu disediakan tenda kecil untuk satu atau dua pendekar perorangan.

Senin, 28 November 2016

Raisa: Apalah Arti Menunggu



“Namun kurasa cukup ku menunggu
Semua rasa tlah hilang
Sekarang aku tersadar
Cinta yang kutunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu
Bila kamu tak cinta lagi”

Suara merdu itu terdengar dari atas panggung. Tanpa dikomando, para penonton ikut bernyanyi bersama, suara teriakan mereka membahana memenuhi venue.
Bzzt.. “Jay.. Ajay.. masuk, Jay!” Bzzzt.. “Ini Grace!” Piip.. tiba-tiba terdengar suara dari HT (Handy Talkie) yang kupegang.
“Ajay di sini. Ganti.” Bzzzt.. Piip.. Jawabku dari HT.
“Raisa sudah mau turun panggung!” Bbzzt.. “Diulangi, Raisa sudah mau turun panggung!” Bbzzt.. “Tolong mobilnya disiapkan di pintu belakang!” Bbzzzt.. “Ganti.”
“86. Dimengerti.” Bbzzt..

Minggu, 27 November 2016

Paradiso 9



-Season 3: Prolog-

Hanyalah lantun kidung, yang bercengkok dan meliuk merdu di antara pucuk-pucuk cemara. Sinar senja menyeruak dari sela dedaunan, membentuk garis-garis jingga di udara -seperti kilauan ribuan lampu sorot- yang menerangi gerak lincah beberapa penari.
 Ava berdiri tak berkedip, memandang takjub ke arah penari yang meliuk, melirik-lirik, dan menggerakkan jemari. Sementara beberapa lelaki bersila khusyuk, melantunkan nyanyian yang mirip tembang kidung Wargasari –lagu pujaan yang biasa dilantunkan umat Hindu.
 Ava tercenung lama, sebelum menyadari bahwa syair kidung tersebut disampaikan dalam bahasa Arab, bukan bahasa Bali atau Jawa Kuno. Malah lamat-lamat Ava bisa menangkap bahwa yang tengah dilantunkan itu adalah Shalawat, puji-pujian untuk Rasulullah SAW. Juga tak ada tetabuh gong atau gamelan, hanya rebana yang dibunyikan bertalu-talu.