Selasa, 22 Agustus 2017

Misteri Ratu Mantera 3



“Tadi waktu kutelepon kakakku, dia malah berpesan agar aku menjaga Quida dan menemaninya selama kakakku belum pulang. Kalau sampai terjadi sesuatu pada diri Quida, aku bisa kena marah habis-habisan, Za.” Febbi terlihat bimbang.
“Aku yang akan jamin keselamatanmu. Nggak bakalan kakakmu marah. Aku punya cara sendiri, konsepnya udah ada di otakku. Udahlah, kamu tenang aja. Nggak usah ikut campur kalau aku bicara sama Quida nanti.”
Saat itu Quida sedang berada di ruang tengah. Ia duduk di kursi baca. Di pangkuannya terdapat sebuah majalah. Tapi pesawat teve di depannya pun menyala. Tampaknya Quida siang itu sedang menikmati acara teve sambil sesekali membaca majalah wanita milik Febbi. Pada saat melihat kemunculan Salza, senyum lembut penuh kedamaian mekar di bibir ranum Quida. Salza sengaja berdiri di bawah tangga memandangi Quida dengan mata sinis. Ia mulai membuka celah untuk bikin persoalan dengan Quida.

Minggu, 20 Agustus 2017

Perjanjian Iblis



Gemuruh suara di langit sudah sejak tadi mencemaskan setiap orang. Malam semakin pekat saja rasanya. Banyak yang menduga akan turun hujan, tetapi nyatanya sampai pukul 9 malam ini hujan belum juga turun. Gerimis pun tidak. Hanya saja, angin berhembus cukup kencang.
Banyak pedagang kaki lima di kawasan Blok M sejak tadi mulai berkemas. Ada yang sudah meringkus barang dagangannya, ada yang hanya siap sedia menghadapi hujan yang akan turun. Menurut mereka, malam itu akan turun hujan dengan deras.
Toko telah tutup. Para pelayannya berkemas pulang melalui pintu belakang. Citra kebingungan mencari payung yang biasanya ia taruh di belakang almari perbekalan. Suara Inggi terdengar keras berseru, "Cepat, Tra. Ntar keburu hujan."
"Justru gue lagi cari payung nih... Brengsek. Siapa yang ngembat payung gue sih?"

Kamis, 17 Agustus 2017

Melepas Keperjakaan



Kalau saja tidak mengalaminya sendiri, aku pasti tidak akan percaya. Semua berawal dari ejekan temanku.
"Dasar cupu! Kamu mau perjaka sampai mati ya?!" kata Dendi. Dia adalah teman terdekatku di kantor.
"Bukan urusanmu." aku berkilah.
Dendi hanya tertawa. Selanjutnya kami meneruskan pekerjaan sambil diselingi guyonannya yang menyindirku sebagai lelaki penakut karena belum pernah berpacaran, apalagi merasakan tubuh wanita.
"Bisa-bisa pejuhmu berubah jadi batu kalau nggak pernah kamu keluarkan!" dia kembali berkata.
"Kan bisa lewat mimpi," sahutku.
"Beda, bro. Moncrot di dalam memek berkali-kali lipat nikmatnya."
"Ah, benarkah?"

Selasa, 15 Agustus 2017

Pulau Dosa 3



CHAPTER 07 : STRANGE NIGHT

“Apa-apaan ini?” Rio mendengus kesal saat membaca kertas yang berisi giliran masak untuk makan malam. “Kenapa para pria yang harus mendapat giliran masak pertama?” protesnya.
Sore itu mereka berkumpul di ruang makan yang tidak terpisah dengan lobby dimana piano merah ada di tengah ruangan. Ruang makan itu terletak di sudut ruangan, dengan dua buah jendela besar di samping meja makan panjang. Pemandangan yang dilihat lewat jendela itu cukup indah, sebuah mercusuar yang terbangun di atas pulau kecil, sebuah jembatan gantung menghubungkan antara Pulau Dosa dengan pulau kecil tersebut. Sayang, jembatan gantung itu telah rusak dan putus.
“Kami lelah sudah berkeliling pulau sepanjang hari, wajar dong kalau para pria menunjukkan sikap gentleman-nya dengan membiarkan kami beristirahat?” ujar Asri, gadis yang membuat jadwal giliran masak selama mereka di Pulau Dosa.

Minggu, 13 Agustus 2017

Jilbab Hunter 4



Malam hari selepas maghrib, Irsyad datang ke kos Devieta dengan menggunakan mobil CR-V kesayangannya. Tempat kos Devieta memang khusus untuk wanita berjilbab, tak heran jika di kos tersebut terdapat banyak penghuni kos yang memakai hijab.
Di tempat kos itu Devieta, Ceppy, Vinta, Zilly dan Arini yang sefakultas. Sisanya berasal dari beragam fakultas dan bahkan ada juga yang sudah bekerja. Sementara itu di tempat kos itu Ceppy yang sering membawa masuk pria dan berganti-ganti pula, bahkan sampai di dalam kamar kosnya. Ceppy termasuk salah satu mahasiswi bispak.
Sesampainya di kos Devieta, Irsyad masuk ke kamar gadis itu dan melihat Devieta yang telanjang dengan bekas sperma yang masih belum mengering. Heran melihat budaknya telah dinikmati oleh orang lain, dengan kasar Irsyad meremas toket Devieta hingga gadis itu terbangun.
"Aaaaaah, saakiiit…" erang Devieta.
"Lu abis ngentot yah?" tanya Irsyad.
"Aaah, iyaaah… mmh sakiit, Syaad, toket gue!" jawab Devieta.