Sabtu, 17 Februari 2018

Madu Perkasa

Di sebuah ruangan rumah sakit, tampak seorang dokter muda nan cantik yang sedang membereskan berkas-berkas pasien dan peralatan medisnya. Ia baru 1 bulan berpraktik sebagai dokter umum di rumah sakit tersebut, namun ia telah beberapa kali ditugaskan untuk jaga malam di fasilitas gawat darurat. Walau sebenarnya enggan, namun karena tuntutan tugas, ia pun rela melakukannya. Hari sudah berangsur pagi, dan kini sudah saatnya bagi dokter muda itu untuk pulang.
"Sudah mau pulang, Dok? Gak sarapan dulu?" tanya seorang suster kepadanya ketika ia sudah berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.
"Iya neh, Sus. Gampang, nanti bisa sarapan di rumah koq. Terima kasih ya semalam sudah dibantu," jawab dokter muda tersebut.

Kamis, 15 Februari 2018

Balada Rif’ah 1

Pagi itu wajah Rif’ah, seorang aktivis salah satu parpol terlihat tegang mendengar penuturan beberapa aktivis juniornya mengenai maraknya website dan blog cabul di internet yang mengeksploitasi para akhwat. Terutama, gadis-gadis yang berasal dari parpolnya. Sebagai aktivis yang cukup senior, Rif’ah sudah lama mendengar mengenai hal ini namun saat itu dia diberitahu bahwa semua foto dalam website tersebut merupakan foto-foto rekayasa, Rif’ah tidak tertarik untuk melihatnya.
Berbeda dengan berita yang disampaikan para aktivis juniornya yang mengatakan bahwa website-website cabul itu sekarang berisi foto-foto asli dan bukan rekayasa, bahkan yang membuat Rif’ah sangat terkejut ketika mereka menyebutkan bahwa di antara foto-foto cabul akhwat dalam website itu terdapat beberapa foto cabul wanita yang berwajah mirip dirinya. Tentu saja ia menyanggah keras foto-foto cabul tersebut sebagai foto-foto dirinya, hanya saja berita tersebut membuat Rif’ah penasaran dengan website-website cabul tersebut.
Terdorong ingin meng-cross check kebenaran berita tersebut, Rif’ah kemudian meminta alamat website-website cabul yang disebutkan aktivis juniornya.

Selasa, 13 Februari 2018

Dia Ngajak Duluan



"Eh, Ta-ta-tante.." Didu tergagap. Entah ini tadi apa yang ada di kepalanya, tapi kakinya tahu-tahu mengantarkannya ke rumah Bella. Bellanya nggak ada, semua nggak ada, yang ada cuma tantenya.
Sejenak mereka bertatapan. Dengan kemeja kuning bunga-bunga dan jins legging yang pas badan itu, raga indah si tante beneran bikin Didu nggak bisa memikirkan negara dan rakyatnya. Cuma galaksi-galaksi dan luar angkasa yang bisa dipikir oleh dia.
"Nggak usah takut! Bella nggak ada kok, cuma kita berdua, ayo senang-senang." Tantenya Bella malah merayu Didu. Dia pun digandeng masuk ke kamar tidur Bella.

Minggu, 11 Februari 2018

Cinta Untuk Suamiku



Hati nurani seorang wanita tidak berubah oleh waktu dan musim, bahkan jika mati tetap abadi, hati itu takan hilang sirna. Sesudah pohon-pohon ditumbangkan dan rerumputan terbakar dan batu-batu karang memerah oleh darah dan bumi di tanami tulang dan tengkorak, ia akan tenang dan diam seolah tak ada sesuatu pun terjadi.

Kahlil Gibran

Aisyah menoleh jam tangannya, pukul setengah sepuluh malam, wajahnya celingukan, ia tak tahu kemana mobil ini hendak membawanya. Jantungnya makin berdegup kencang ketike SUV putih itu mulai memasuki area perkampungan yang hening dan hanya segelintir orang-orang saja yang tengah asyik main domino di sebuah warung kopi.

Jumat, 09 Februari 2018

Best Gift Ever



"Selamat ulang tahun, Professor!"
Salah satu kening Charles terangkat. Kedua mata hitamnya menatap lekat-lekat wanita berambut merah lebat yang berdiri di hadapannya. Alih-alih membalas ucapan selamatnya tadi, ia malah berujar, "Rouge, apa yang kau lakukan tengah malam begini?"
Gadis bertubuh seksi itu menghela nafas panjang. Senyum manis di wajahnya berubah menjadi senyum jengkel. Ia balas menatap tajam Charles. Sepasang mata coklat almondnya berkilat-kilat. Charles benci mengakuinya, tapi hal ini justru membuat Rouge semakin terlihat cantik.