Jumat, 29 September 2017

Senggol Sana Senggol Sini 3



Hari yang cerah. Meskipun matahari telah condong ke barat, namun cahayanya yang keemasan masih terus menyepuh pucuk-pucuk tanaman di halaman depan rumahku sehingga tampak begitu indah. Sementara itu angin semilir yang lembut bertiup ke segala penjuru di sekitarku.
Aku duduk di teras menikmati kesendirian. Di pangkuanku tergeletak sebuah novel misteri yang sejak aku duduk di tempat itu belum sekali pun sempat kubaca. Mataku lebih banyak melayang ke sekeliling. Ke halaman yang selalu rapi karena terawat dengan baik. Lalu ke langit yang cerah penuh warna keemasan, dan juga ke jalan dan ke mana pun mataku berlabuh. Damai rasanya.

Rabu, 27 September 2017

Tidur Bersama Kakak



Ada tamu di rumah; bibi dan paman dari pihak ibu. Mereka datang siang tadi. Rumah jadi penuh. Dengan hanya tiga kamar tidur yang tersedia, maka aku harus mengalah selama mereka menginap. Tidak masalah buatku meski itu artinya aku harus berbagi kamar dengan kakak perempuanku. Malah itu terbukti akan sangat menyenangkan, seperti yang akan segera aku ceritakan.
Umurku lima belas, dan kakakku, Rizka, selisih hanya setahun di atasku. Ibuku hamil segera setelah dia lahir. Kami begitu dekat sehingga banyak orang yang mengira kami kembar. 
Setelah makan malam, semua orang pergi ke kamar masing-masing. Bibi dan paman tidur di kamarku. Orang tuaku tetap di kamar mereka. Sedangkan aku pergi ke kamar mandi dan kemudian beranjak menuju kamar Rizka. Tampak dia sudah berbaring di dalam sambil bermain hape.

Senin, 25 September 2017

Saat Aku Hamil



Aku hamil. Satu keadaan dimana seorang wanita akan lebih diperhatikan suami. Setidaknya itu gambaran yang aku dapatkan dari kakak perempuanku yang lebih dulu menikah.
Lain yang dibayangkan, lain pula kenyataan. Apakah dinamakan perhatian, bila kontrol ke bidan saja hingga usia kehamilanku tujuh bulan, suamiku tak pernah mau mengantar. Dan yang menyakitkan, ia lebih suka mempertaruhkan uang gajinya di meja judi ketimbang menyimpan untuk persiapan persalinanku kelak. Dari kebiasaan berjudinya inilah peristiwa yang aku ceritakan ini terjadi.
Suamiku sering pulang larut malam bahkan sampai keesokan paginya untuk hobi buruknya itu. Siapa bilang aku tidak takut? Desa kami masih terhitung jarang penduduknya. Satu teriakan tengah malam dari sebuah rumah, mungkin tidak akan terdengar oleh tetangganya yang terdekat sekalipun.
"Ah, kalau kamu takut, minta aja si Anto tidur disini!" Anto adalah adik kandungku.
Selalu itu jawabannya bila aku protes. Dasar laki-laki bebal! Akhirnya aku merasa memang tidak punya pilihan. Daripada aku tersiksa sendiri setiap malam. Dada sesak karena tekanan bayi dalam kandunganku yang kian besar, dan rasa was-was bila ada orang berniat buruk menyelinap ke rumahku, membuatku tak pernah dapat tidur.

Sabtu, 23 September 2017

Sengsara Membawa Nikmat 15

Maman telah menanggalkan semua pakaian yang dikenakannya. Pria bertubuh kerempeng dengan posturnya yang jangkung itu bersiap akan melakukan penetrasi ke dalam liang kenikmatan milik Alya sambil mengocok batang kontolnya yang sudah menegang keras. Maman mengangkat kedua kaki Alya  yang jenjang ke atas dan disangkutkan di kedua pundaknya. Sebelum itu, Maman menggesek-gesekkan batang kontolnya di bibir vagina Alya yang tembem dan nampak bersih.
Seketika itu juga ibu muda yang cantik itu merasakan geli di selangkangannya. Gairah Alya kembali mendera. Wajahnya terlihat bersemu merah pertanda dirinya sedang terangsang berat. Liang vagina Alya nampak sudah basah, saat yang tepat bagi Maman untuk memasukkan rudalnya ke dalam memek tersebut.
”Bleessss...” kontol Maman menyeruak masuk ke dalam vagina Alya.

Kamis, 21 September 2017

Salah Sangka

"Hey, penyanyi dangdutnya jangan dicolek!" Mas Alim menegurku.

"Sorry, Mas. Abis nafsu sih. Field job berminggu-minggu nggak ketemu istri begini... berasep juga deh pala," aku beralasan.

"Iya, aku ngerti. Tapi jangan ama si Neneng, dia nggak bersih, lagian nggak cantik juga." Mas Alim menasehati lagi. Lalu dia berbisik, "Ssst, kalo emang udah nggak tahan, ada kok solusinya," begitu dia bilang.

Dalam hati aku kaget juga. Masak sih Mas Alim yang beneran alim ini nawarin 'solusi'? nggak salah?!

"Ssst, denger ya... dari basecamp ini, kamu jalan deh ke bawah sana. Temui Mbak Ratna, wanita cantik yang baru pindah dari kota. Ama dia bereslah... sabtu-minggu dia bebas, kita-kita sering kok pake jasa dia," katanya mengedip.