Selasa, 19 September 2017

Saat Berdua 2



Sejak Zita memijatnya kemarin, Derri jadi makin memperhatikannya. Padahal sebelumnya hal ini tak pernah dia lakukan. Seperti waktu Zita menyapu lantai di pagi hari, terkadang tubuhnya agak membungkuk untuk menjangkau debu di bawah sofa, Derri tidak akan melewatkan untuk menikmati bulatan buah dada putihnya. Atau kala Zita sedang naik tangga untuk mengambil jemuran, Derri akan dengan senang hati menikmati betis dan paha mulusnya.
Paling menyenangkan kalau memperhatikan Zita yang mengepel lantai, makin banyak bagian dari buah dadanya yang bisa dinikmati oleh Derri, apalagi kalau dia memakai baju yang berbelahan dada rendah. Wuh, perempuan itu jadi seperti setengah telanjang. Tentu saja sebelum melakukan itu, Derri harus memeriksa situasi dulu, memastikan Lia atau Ihsan sedang tidak ada di rumah.
Dan keberuntungannya datang ketika suatu hari Derri terpaksa pulang lagi ke rumah karena ada berkas kantor yang ketinggalan. Waktu itu sekitar jam sepuluh pagi. Dengan tergesa-gesa, dia mengetok pintu rumah, tapi tidak ada yang menyahut. Zita pasti sedang berada di belakang.

Minggu, 17 September 2017

Pendekar Tanpa Tanding 13



Hari itu, sepuluh hari setelah kematian Walang Wulan, seperti biasa Prawesti menyediakan makan siang untuk Wisang Geni. Selesai keduanya bersantap, Prawesti dengan manja merebahkan diri di pangkuan sang ketua. Hubungan dua insan itu makin intim seperti layaknya suami isteri.
"Prawesti, aku merasa tidak pantas menjadikan kamu sebagai pelampiasan nafsu birahi dan rasa rindu akan isteriku."
Gadis itu menyentuh bibir Geni dengan jari. "Kangmas, jangan sebut itu lagi. Sudah aku katakan, aku bersedia dan rela menjadi pelayanmu. Aku tahu, kau masih mencintai Sekar, masih merindukan dia, sering di malam hari kau memanggil namanya. Kau juga belum bisa melupakan bibi Wulan, dan mungkin dalam waktu dekat ini kamu sulit mencintai perempuan lain. Aku bisa mengerti, dan aku tak peduli."

Jumat, 15 September 2017

Hasrat Tak Tertahan

Udara dingin dalam cuaca mendung gelap yang menyesakkan. Sudah dua hari ini matahari enggan untuk menampakkan sinarnya. Angin kencang menggoyang daun-daun kering yang tampak ringkih bertahan di dahan. Hari-hari di bulan desember yang selalu basah dan gelap.
“Dek, abang berangkat dulu ya.”
“Hati-hati di jalan, Sayang. Jangan ngebut, ya?”
Lelaki yang dipanggil sayang itu tersenyum. Wajahnya sebenarnya cukup lumayan, agak ganteng kalo dilihat dari Monas pake sedotan. Tubuhnya kurus kering, dengan kulit coklat kehitaman terbakar matahari. Rambutnya yang kriwil makin menambah kesan tak terurus pada diri pria itu. Ia  mengecup kening dan pipi istrinya yang bulat dan menggelitik pinggang ramping milik wanita itu.
“Ih, abang nakal.” wanita itu menepis tangan suaminya yang mulai merambat menyusuri belahan buah dadanya yang besar. “Sudah ah, nanti Papa terlambat.” Dia mengingatkan.

Rabu, 13 September 2017

Putri Ular Putih 15

Setelah Fa Hai pergi, Xu Xian tepekur di depan meja rias. Fu Yun menghampirinya dan berkata lembut, “Aku tidak melihat yang baru saja terjadi. Ceritakanlah kepadaku semua kejadian dari awal mula. Baru kemudian kita putuskan apa yang masih dapat kita lakukan.”
Xu Xian menyapu air matanya. Ia melihat Fu Yun bersama beberapa orang lainnya. “Seperti halnya kalian, aku pun mengira Bai Su-zhen adalah seorang wanita biasa yang lemah lembut. Setelah kalah bertempur melawan Fa Hai, pendeta itu mengubahnya ke bentuk semula, yaitu seekor ular besar berwarna putih. Ternyata ia telah mendalami ilmu gaib selama lebih dari seribu tahun. Seandainya ia tidak menikah denganku, ia akan hidup selama-lamanya.”
Semua orang terkejut, “Benarkah ceritamu itu? Bagaimana Xiao Qing?”
“Ia adalah Ular Hijau,” jawab Xu Xian. “Tetapi Xiao Qing tidak sepandai kakaknya, karena ia baru berlatih selama enam ratus tahun.”

Senin, 11 September 2017

Pulau Dosa 4



CHAPTER 11: THE LABYRINTH

Rio beranjak menjauh dari piano kala ia merasakan lantai di bawahnya bergetar hebat. Perhatian Enyas teralih ke arah piano merah yang tampak bergetar untuk beberapa detik. Tidak satupun dari mereka berlima menduga apa yang terjadi kemudian. Mereka hanya bisa memandang takjub saat piano dan lantai di bawahnya bergeser, sebuah lubang seukuran pintu terbuka menganga menggantikan piano yang kini telah bergeser.
“Ruang rahasia?” Via tampak heran dengan apa yang terjadi di depan matanya. Wajar saja, ruang rahasia bukanlah hal yang lumrah di sebuah bangunan biasa. Apalagi ruang tersebut terbuka dengan memainkan sebuah kombinasi nada di piano di atas ruangan tersebut.
“Kau membawa sentermu, Asri?” Rio bertanya.