Minggu, 23 Juli 2017

Ternodanya Widyaningsih



Widyaningsih bekerja sebagai sekretaris pada suatu grup perusahaan  ICT besar di Hongkong. Karena pendidikannya sebagai sekretaris, dimulai dengan ASMI di Jakarta, kemudian dilanjutkan di Inggris karena kebetulan ayahnya sebagai pejabat tinggi dari Deplu ditugaskan di London, maka Widyaningsih yang biasa hanya dipanggil Widya, melanjutkan pendidikannya di Inggris. Setelah itu ia berhasil bekerja di kantor HSBC London, sebuah Bank Internasional, dan dengan modalnya itu maka tanpa terlalu sukar ia memperoleh kedudukannya sekarang di Hong Kong.
Kantornya terletak di bilangan daerah kelas satu, yaitu di jalan Kowloon Boulevard, di sebuah gedung bertingkat. Perusahaan tempat Widya bekerja, memakai 3 lantai penuh yaitu lantai 5, 6 dan 7 dari gedung tersebut. Ketiga lantai tersebut dihubungkan dengan tangga khusus yang sengaja dibuat di bagian dalam perkantoran, untuk memudahkan hubungan antar perusahaan di group tersebut, tanpa mempergunakan lift. Kantor Widya terletak di lantai 6, dan ruangan tempat Widya bekerja terletak agak berdekatan dengan tangga penghubung ke lantai 5 dan 7.

Sabtu, 22 Juli 2017

Putri Ular Putih 13



Selama pertempuran berlangsung, Xu Xian ditahan di tempat perlindungan dan dijaga oleh seorang pendeta. Ia tidak mengerti mengapa hujan turun deras sekali. Namun ia mendengar bahwa Ular Putih dan Ular Hijau membawa sepasukan Manusia Air untuk membanjiri biara. Ia pun mendengar bahwa untuk mencegah banjir, pendeta Fa Hai meletakkan jubahnya di tepi sungai. Ia juga tahu bahwa sekalipun biara tergenang air, ia akan tetap selamat. Ia yakin akan kemampuan istrinya.
Seorang pendeta tiba-tiba masuk tergopoh-gopoh, mengatakan bahwa Ular Putih dan Ular Hijau telah datang menyerang biara. Xu Xian sangat senang mendengarnya. Pendeta yang lain menambahkan, ia tidak perlu merasa khawatir karena Pasukan Surga pasti akan mampu mempertahankan biara. Dengan kesaktian dan jumlah pasukan yang besar yang tersebar di seluruh kota, mereka pasti tidak terkalahkan. Kegembiraan hati Xu Xian pun musnah.

Kamis, 20 Juli 2017

Mata Yang Selalu Kurindukan



"Mas, kapan pulang dari London?"
"Dua jam lagi aku ke Heathrow, Cindy."
"Heathrow itu apa?"
"London, Airport."
"Oh... Jauh dari hotel kamu?"
"Lumayanlah. Naik kereta api sekitar 30 menit kali ya."
"Cepet pulang, ya?"
"Ngapain cepet-cepet? Hehehe..."
"Idih. Kok ngapain cepet-cepet, sih? Sebel!!" Aku gemes.
Lalu dia tidak menjawab lagi messageku. Aku pandangi fotonya di komputerku. Uuuh. Ta'uk deh. Tiap kali ketemu, tuh anak ngegemesin banget. Tapi, kalo jauh begini. Ngangenin.

Rabu, 19 Juli 2017

Tutur Tinular 15



Hak cipta © Buanergis Muryono & S.Tidjab

Pada suatu hari, Arya kamandanu pergi ke tepi padang ilalang, tempat yang sangat istimewa di hatinya. Ia berjalan kaki tanpa kuda kesayangannya. Di tengah jalan ada seorang pemuda menghadang langkahnya. Ketika Arya Kamandanu mendongak siapa pemuda itu, ia tersenyum dingin.
Dangdi, putra Kepala Desa Manguntur, duduk di punggung kudanya dengan pongah dan sombong sekali, "Aha, Kamandanu! Apa sekarang kau sudah menjadi seorang gembel pengelana? Mana kudamu?"
"Kebetulan aku sedang menyukai perjalanan dengan kaki, Dangdi. Minggirlah, aku mau lewat!"
"Ah, kasihan sekali kau kawan. Nari Ratih sudah terlepas dari tangan, sekarang rupanya kau pun tidak dipercaya lagi menunggang kuda oleh ayahmu."

Senin, 17 Juli 2017

Anakku Duda



Sejak kematian menantuku, Lina, anakku Dodi menjadi duda. Dia tinggal di rumahku, dengan membawa anaknya yang berusia 6 tahun. Kebetulan sekali putri tunggalnya itu begitu dekat denganku. Dodi pun seperti kehilangan semangat untuk melakukan apa saja. Setelah mengantar anaknya ke sekolah, dia langsung pulang ke rumah tak mau lagi mengerjakan apa pun juga. Aku sudah lelah menyemangatinya. Aku mengakui, kalau Lina orangnya sangat baik dan cantik. Pantas kalau Dodi anakku sangat kehilangan dirinya.
"Sudahlah, Dod. Semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan," kataku menenangkan jiwanya.
Aku menyuruhnya untuk menikah lagi, Tapi Dodi yang kini sudah berusia 25 tahun itu, tak mau menikah. Takut anaknya punya ibu tiri dan tak dapat menerima anaknya. Aku mengalah. Tapi aku tak sampai hati melihatnya selalu uring-uringan. Selalu termenung. Mungkin inilah kesalahanku. Aku mendekatinya, dengan maksud agar dia tetap hidup semangat menghadapi semua ini.