Senin, 27 Maret 2017

Kenangan Hitam Masa Lalu 13



Murti menjanda. Sudah genap seratus hari sejak kematian Pak Camat, Murti menyandang status barunya. Bahkan orang-orang menambahi embel-embel di belakang status barunya sehingga lengkap sudah; Murti si janda kembang. Sudah menjanda, kaya pula. Tidak heran kalau banyak lelaki yang antri, baik yang terang-terangan ataupun yang sembunyi-sembunyi. Tapi Murti tetap setia bersama Gatot dan orang-orang komplek mulai yakin kalau Murti dan Gatot memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan dewa-dewi. Sang dewa seorang duda, sang dewi baru saja menjanda. Cocok sekali.
Sekarang Murti sudah mau belajar nyetir dan gurunya adalah Gatot. Tiap hari sepulang dari mengajar, Murti langsung memanggil Gatot lewat dapur rumahnya. Kadang yang muncul adalah Gatot sendiri, tetapi kadang pula Aisyah. Seperti sore ini, ketika ia memanggil Gatot, yang nongol malah Aisyah.

Sabtu, 25 Maret 2017

Laut Biru 12



Hak Cipta © Stuka1788


Part XII: The Stackup


Beberapa Hari Sebelum Present Day
Parliament House
Canberra, Australia
15.11 AEST (12.11 WIB)
H minus 95:49:00

“BRAAAK!!!”
Pria separuh baya berambut putih itu hanya diam saja saat melihat setumpukan koran dibanting di hadapannya. Dia hanya melihat dengan dingin si pembanting koran, seorang pria tegap dengan rambut brunette yang terlihat amat gusar.
“Ini gila!!” kata si pria berambut brunette.
“Tenanglah, Mr. Andrews, pada saat seperti ini kau tidak boleh kehilangan ketenanganmu,” kata si pria berambut putih, “ingat, kau adalah Perdana Menteri dari negara ini, dan sikapmu akan merefleksikan bagaimana sikap bawahanmu,”
Ternyata si pria berambut brunette adalah Perdana Menteri Australia, Phillip Andrews.

Jumat, 24 Maret 2017

Misteri Yang Tersembunyi 10



Candi dan Sujarno terkejut. Meski remang, Candi langsung tahu pemilik suara itu. Itu Kuntoro! Di sebelahnya, berdiri si jebah, si celana longgar, dan si kumis. Bagaimana mungkin Kuntoro berada di sekitar sini? Orangtua keji ini benar-benar licin.
”Aku selalu beruntung memilih tempat lari atau bersembunyi,” kata Kuntoro seolah ingin menjawab rasa penasaran Candi kenapa ia bisa berkeliaran di kawasan ini. “Yang menyerah di sana itu adalah orang-orang yang bimbang pada kesetiannya padaku, dan yang tak pintar memilih ruang untuk bertahan,” Kuntoro tersenyum, memuji olah kata filosofisnya.
”Kini semua tugasku hampir tuntas. Kertas yang kuambil dari rambut jagung itu sudah ada pada anakku dan anakku pasti sudah menyelesaikan tugasnya mengambil satu carik lagi di rumah Parto Sumartono. Ia kemudian akan membawanya ke luar Kemiren.”

Kamis, 23 Maret 2017

Ketika Iblis Menguasai 11



Hari itu Syahrul yang biasa dipanggil sehari-hari Arrul merasakan sukar belajar di kamar tempat kost. Selain udara sangat panas, juga ada dua hal lain yang mengaduk dan mengganggu konsentrasinya. Ia baru saja kembali dari desa setelah menginap tiga malam di rumah pamannya, yaitu pak Sobri.
Syahrul yang masih kuliah bagian arsitek taman dan lingkungan di salah satu perguruan tinggi di ibukota, memperoleh tunjangan dari pamannya yang cukup berada. Orang tuanya sendiri tak mampu membiayai di perguruan tinggi, dan karena pak Sobri dulu pernah berhutang budi kepada orang tua Syahrul, maka kini pak Sobri bersedia menyokong kuliah Syahrul. Pak Sobri tidak mengajukan banyak persyaratan terhadap tunjangannya itu, tapi dibatasinya hanya untuk tiga tahun pertama. Setelah itu diperkirakan Syahrul akan terbiasa hidup di Jakarta, dan juga dapat kerja sambilan untuk membiayai kuliah dan kehidupannya di ibukota.

Rabu, 22 Maret 2017

Putri Ular Putih 10



Setelah mendengar cerita Bai Su-zhen, Xu Xian merasa lega dan langsung tertidur. Keesokan harinya, ia terbangun pagi sekali. Kegiatan di tokonya berlangsung seperti biasa. Bai Su-zhen memindahkan barang-barang mereka ke lantai atas. Walaupun toko sibuk, Bai Su-zhen tetap sanggup mengatasinya. Ketika Xu Xian sedang bekerja di kantornya tiba-tiba ia mendengar seseorang berteriak di luar.
“Demi dewa-dewa, apakah majikanmu ada di rumah?”
Melihat Fa Hai yang datang, Xu Xian segera keluar menyambutnya.
Fa Hai memutar-mutar tongkatnya dan berkata, “Kita tidak dapat berbicara di sini. Sebaiknya kita berbicara di balik dinding itu.”
Karena tak mau menyinggung perasaan Fa Hai, Xu Xian menuruti saja usul Fa Hai. “Apa yang akan Tuan bicarakan kepadaku?” tanya Xu Xian.
Fa Hai tersenyum, “Istrimu benar-benar telah minum anggur itu?”