Rabu, 26 April 2017

Tutur Tinular 13



Hak cipta © Buanergis Muryono & S.Tidjab

Beberapa hari setelah kejadian itu, Rekyan Wuru dengan ditemani Kepala Desa Manguntur datang ke Kurawan. Mpu Hanggareksa menerima tamunya dengan ramah. Mereka pun membicarakan masalah Arya Dwipangga dan Nari Ratih. Tercapailah kata sepakat untuk menikahkan keduanya.
Pada saat hari yang telah ditentukan, kedua keluarga itu mempersiapkan segala sesuatu untuk melangsungkan upacara pernikahan. Pesta pernikahan antara Arya Dwipangga dan Nari Ratih cukup meriah. Pesta diselenggarakan di rumah Mpu Hanggareksa. Tampak pengantin pria duduk bersanding dengan pengantin wanita di pelaminan. Keduanya kelihatan bahagia.
Para tamu ikut bersukacita atas berlangsungnya pernikahan mereka. Baik yang datang dari Manguntur maupun dari desa lainnya. Mereka sibuk berbincang-bincang dengan teman duduknya sambil menikmati hidangan yang disediakan. Terdengar alunan gamelan yang ditabuh para niyaga yang menyemarakkan pesta pernikahan itu. Namun, di tengan keramaian itu tampak seorang lelaki mengerutkan dahinya saat seorang perempuan tua datang kepadanya.

Selasa, 25 April 2017

Sex For Life



Hari mulai pagi, mentari telah menampakkan sinarnya. Rutinitas gue sebagai mahasiswa telah dimulai. Tapi apa daya, gara-gara temen-temen pada ngajak gue nobar derby London jadinya gue telat ke kampus. Tak apalah yang penting klub kebanggaan gue menang telak. Lumayan bisa bully temen-temen gue di kampus
Pagi ini seperti biasa gue harus ke kampus buat ketemu sama dosen gue. Gara-gara ada satu materi kuliah yang gue ketinggalan jadinya gue mesti bikin janji ikut kuliah penggantinya.
"Brengsek nih dosen! Kan ikut dosen lain juga gak apa, kenapa harus ikut materi dia. Percuma dong gue ngehindar jam kuliah tuh dosen!" umpat gue.
Nih dosen sebenernya gue paling males masuk jam kuliah dia. Banyak yang bilang dia dosen killer. Kalo ngajar tegas banget, disiplin, kadang juga ngeselin. Namanya Yeni Januarsih, umurnya 35 tahun. Setau gue dia udah punya anak satu. Temen-temen gue bilang dia itu nenek lampir. Paling seneng kalo ngajar kuliah malam hari. Kalo udah masuk kelas suasananya udah kayak lagi uji nyali. Sereeeem!

Senin, 24 April 2017

Pendekar Tanpa Tanding 10



Hak Cipta © John Halmahera

Hari ini adalah awal dari hari esok. Pertemuan adalah awal dari suatu perpisahan. Beberapa hari bersama-sama, ngobrol bercanda, makan minum dan tidur, tanpa terasa telah menumbuhkan rasa pertemanan yang akrab. Rombongan besar itu berpencar. Demung Pragola bersama cucu dan anak buahnya pulang ke markas partainya. Sebelum pergi Demung Pragola menjanjikan bantuan kepada Wisang Geni, kapan saja diperlukan.
Rombongan Sang Pamegat bersama Ranggawuni, Mahisa Campaka, Waning Hyun dan delapan pendekar Tumapel melanjutkan tujuan asalnya. Wisang Geni yang dulunya tawar terhadap tiga pangeran ini, belakangan mulai hangat. Ia memberi hormat sambil mengucap salam perpisahan.
Sekoyong-koyong Waning Hyun yang berdiri di samping Ranggawuni memperingatkan Geni. "Kangmas Wisang Geni, kamu sekarang ketua Lemah Tulis, kamu juga kakak perguruanku, tetapi kamu tetap masih hutang satu permintaan padaku. Jangan lupa, suatu waktu nanti aku akan menagih janji itu, awas kamu tak boleh ingkar."

Sabtu, 22 April 2017

Paradiso 11



Fragmen ??
Limbo

“Lama banget, aku udah nunggu kamu dari tadi.” kata Awan.
“Maaf-maaf... hehehe, kamu jadi menunggu lama.” Sheena tersenyum manis, menutup buku sketsanya.
Pemuda itu tiba-tiba muncul di sekrtariat jurnalistik, mengejutkan Sheena yang dari tadi sibuk menggambar komiknya.
Sheena nyengir, sambil membetulkan letak kacamata. “Bentar, ya... beres-beres dulu.”
“Huu... “Awan mendekat, membuka lembaran-lembaran buku sketsa yang dipenuhi gambar komik. Matanya sibuk meneliti gambar dan panel-panel sudah ditebalkan Sheena dengan tinta hitam. “Na, Gambarmu bagus banget, kamu memang hobby gambar ya?”
“Gambar komik, tepatnya.” Lalu Sheena sibuk berceloteh tentang judul-judul komik yang sebagian bahkan tidak diketahui Awan, “Wan, kamu suka komik apa?”
“Golden B-... eh, Conan... Detektif Conan bagus... hehe... "

Jumat, 21 April 2017

Duka Tak Bertepi 1



Catatan : Ini adalah sekuel dari cerita berjudul Kenangan Hitam Masa Lalu.

Genap seribu hari pasca kematian Pak Camat. Suasana kompleks benar-benar berubah total. Peristiwa tragis dan dramatis itu pun sudah dilupakan. Termasuk Gatot yang semakin bahagia hidup bersama Aisyah serta balita kembar berumur tiga tahun. Aisyah masih tetap mengajar. Tiap hari Gatot mengantar jemput istrinya. Berkat modal yang dulu diberikan Aisyah, kini Gatot mampu membeli mobil baru. Toko klontong berubah jadi minimarket. Bengkel motor berkembang menjadi dealer besar. Dan Gatot tidak pernah bisa seratus persen melupakan Murti. Terlebih sekarang mereka menempati bekas rumah Pak Camat yang dibeli Aisyah. Rumah penuh kenangan bagi Gatot.
“Mas, tiba-tiba saja aku rindu Bu Murti.” kata Aisyah pada suatu hari.
“Aisyah, kita sama-sama merindukan dia. Entah di mana keberadaannya saat ini.” jawab Gatot.