Selasa, 30 Mei 2017

Pulau Dosa 1



Chapter 01 : Keberangkatan

Nurul mencoba mengatur nafasnya yang kini memburu tak beraturan, sekujur tubuhnya masih merinding ketakutan atas apa yang baru saja ia alami beberapa menit yang lalu. Jari-jari lentik gadis cantik itu masih tampak sedikit gemetar meski tadi rekan-rekannya yang lain telah berusaha menenangkannya. Sebenarnya ia tidak ingin berada sendirian di kamar yang menakutkan ini, namun ia tidak punya pilihan lain, instruksi yang diberikan dalam pelatihan kali ini jelas-jelas mengharuskan mereka untuk tidur di kamar mereka masing-masing. Nurul kini hanya bisa meringkuk bersembunyi di balik selimut berwarna merah darah yang memang disediakan di masing-masing kamar.
Sejatinya Nurul ingin segera terlelap, namun setiap ia memejamkan mata ia terbayang tentang kejadian menakutkan yang baru beberapa menit lalu dialaminya. Nurul menutupi seluruh tubuh bahkan kepalanya menggunakan selimut. Berharap kantuk segera membawanya terlelap dan pagi lekas tiba.

Senin, 29 Mei 2017

Buruk Sangka



Ruang tamu Aminah penuh sesak oleh ibu-ibu anggota tahlilan mingguan. Sebelum acara dimulai, seperti biasa mereka kasak-kusuk saling berkicau mengobrolkan hal-hal tak penting. Kali ini pembicaraan mereka terpusat pada Suliha, juragan toko kelontong, yang ditengarai memiliki resep khusus agar cantik mendadak. Suliha yang jadi bahan kekaguman orang-orang sekitarnya duduk kaku sok melamun, padahal telinganya bergerak-gerak kala menangkap bisik-bisik pujian dari dua ibu di sebelahnya.
Aku sendiri asyik mendengarkan hipotesis Yarni dan Nurtini. Sebagai orang yang tahu keseharian Suliha -keduanya jadi pramuniaga di toko Suliha- mereka berkoar-koar memaparkan resep ajaib kemulusan kulit juragannya. Ibu-ibu yang menyimak -termasuk aku- terbengong-bengong sampai tanpa sadar mulut kami terbuka.
“Dia beli kosmetik racikan dokter. Katanya bisa mencegah kerut, memudarkan flek-flek hitam, melicinkan kulit, dan yang terpenting… bisa jadi.. AWET MUDA!”

Sabtu, 27 Mei 2017

Tutur Tinular 14



Hak cipta © Buanergis Muryono & S.Tidjab

Sementara itu, Wirot yang berada di bawah bersama Mpu Ranubhaya melihat tubuh Arya Kamandanu melayang ke bawah. Wirot cemas dan panik sekali, hingga ia berteriak histeris, "Ohh, Guru... lihat Angger Kamandanu!"
"Diamlah,Wirot! Jangan bersuara apa-apa."
"Tapi, Guru..."
"Diam kataku!" suara Mpu Ranubhaya berat dan sangat dalam tanpa memandang muridnya yang sangat cemas melihat Arya Kamandanu melayang, meluncur dari pucuk bambu petung. Meluncur makin lama makin deras dan membuat Wirot menutup kedua mata dengan kedua tangannya.

Jumat, 26 Mei 2017

Gara-Gara Nyasar



Kebanyakan bengong mengkhayalkan hal-hal nggak jelas, tahu-tahu Gani sudah ada di depan rumah Lisna. Di situ, dia kaget sendiri.
"Kok nyasar ke sini, nih?" Gani kelimpungan.
"Lisna nggak ada," ibu pacarnya menyambut.
"Eh, Ma-ma-ma-ling... eh, Mama Lisna..." Gani tergagap.
"Iya, ganteng. Apa kabar?"
"Ba-ba-ba-u, eh, baik, Mama Lisna."
"Pas lagi sepi ada kamu nih. Seneng deh. Hahaha..."
Gani celingak-celinguk. Serasa ada yang aneh, nih. Biasanya si ibu lembut, kenapa jadi aneh? Tercium bau alkohol. Mabok, nih.
"Kebanyakan minum ya, Mama Lisna?"
"Hehehe.. manggilnya jangan Mama Lisna dong kalo pas sepi-sepi..." matanya sayu, seperti ngantuk berat.

Kamis, 25 Mei 2017

Pendekar Tanpa Tanding 11



Perjalanan panjang yang melelahkan Geni sejak pencerahan ilmu Wiwaha di lembah kera dan penemuan Prasidha telah berakhir pada hari kemarin. Risiko hampir gila dan hampir tewas telah mewarnai perjalanannya dalam penguasaan ilmu silat kelas utama. Dendam atas kematian orangtuanya dan semangat membayar semua hutang darah perguruannya membuat Wisang Geni tak pernah surut dalam melangkah. Tujuannya jelas, ingin melunasi dendam serta ambisi besar mengangkat kembali citra Lemah Tulis yang sudah terpuruk selama dua puluh lima tahun.
Pencerahan ilmu silat dimulainya ketika dia menemukan rahasia kehebatan Prasidha saat tarung lawan tiga murid Kalayawana di Mahameru Dia berhasil menembus misteri memahami inti falsafah jurus pusaka itu. Kalimat Parahwanta Angentasana Dukharnawa (Hendaknya menjadi perahumu menyeberangi lautan kesusahan) telah sempurna dipahaminya pada saat-saat terakhir ketika nyawanya berada di ambang maut.